Hiu Martil Si Predator Berkepala Unik


PREDATOR PREDATOR TAMPILKAN DENGAN KEPALA UNIK – Ikan ini memiliki penampilan yang unik, kepalanya seperti palu atau palu. Semasa hidupnya ia berkelana di perairan laut tropis. Ikan ini dikenal dengan nama Hammerhead Shark atau Hammerhead Shark.

Sebelum membahas spesies hiu martil, jelaskan secara singkat tentang hiu secara umum. Hiu adalah ikan yang memiliki kerangka tulang rawan dari subclass Elasmobranchii.


Kelompok Elasmobranchii terdiri dari hiu dan pari, memiliki tingkat keanekaragaman yang tinggi dan dapat ditemukan di berbagai kondisi lingkungan, mulai dari air tawar hingga palung laut terdalam dan dari daerah tropis yang dingin hingga hangat di laut (Compagno, 2001).

PREDATOR TAMPILKAN DENGAN PREDATOR KEPALA UNIK

HIU MARTIL - HIU MARTIL SI PREDATOR BERKEPALA UNIK


Hiu martil memiliki banyak nama daerah, di antaranya hiu caping (Jawa), hiu capil (Bali), hiu bingkoh (Lombok), hiu tanduk (Sibolga dan Aceh).Hiu martil (Spyrna lewini) atau Scalloped Hammerhead adalah ikan hiu yang hidup di sekitar perairan laut yang hangat dan tropis, dari permukaan dan intertidal hingga kedalaman 275 m (dilaporkan pada halaman bpsplpadang.kkp.go.id).

Hiu martil yang termasuk dalam famili Sphyrnidae merupakan salah satu jenis hiu yang sering ditangkap di perairan Indonesia (White et al., 2008), khususnya di kawasan Samudera Hindia bagian selatan Jawa dan Nusa Tenggara.

Hiu martil pada awalnya merupakan hasil tangkapan sampingan dalam perikanan tuna namun pada perikanan artisanal di beberapa daerah terkadang menjadi sasaran tangkapan (Drew et al., 2015; IOTC, 2014; Fahmi & Dharmadi, 2013).

Ikan ini merupakan predator agresif yang memakan ikan, ikan pari, cumi-cumi dan krustasea. Namun mereka cukup pemalu dan tidak dianggap berbahaya bagi manusia.

Sembilan spesies hiu martil berukuran panjang 2 hingga 6 meter (6,5 hingga 20 kaki), dan semuanya memiliki proyeksi kepala menyerupai kepala martil pipih yang dapat dilihat dari satu sisi, matanya berada di ujung kepala.

Hiu martil dilindungi

hiu martil di lindungi - HIU MARTIL SI PREDATOR BERKEPALA UNIK

Hiu martil memiliki dua sirip di punggungnya. Sirip punggung pertama tinggi, agak melengkung dan untuk sirip punggung kedua pendek, dengan punggung panjang dan tepi agak cekung.Hiu martil memiliki mulut kecil dan tampaknya melakukan banyak perburuan bawah. Mereka suka membentuk kelompok pada siang hari, terkadang berkelompok lebih dari 100. Pada sore hari, seperti hiu lainnya, mereka menjadi pemburu tunggal.

Baca juga; Hiu pada umumnya

Sirip ekor berbentuk seperti huruf “V” dan memiliki sepasang sirip dada. Umumnya berwarna abu-abu di bagian punggung dan putih di bagian perut.

Bentuk kepala hiu yang aneh ini dapat dianalogikan sebagai antena serangga karena membantu hewan ini untuk memutar tubuhnya dengan benar. Hiu martil memiliki pori sensor elektrolokasi yang disebut ampullae dari Lorenzini.

Dengan menyebarkan reseptor di berbagai area, hiu martil dapat mencari mangsa dengan lebih efektif. Selain itu, ia juga memiliki kemampuan mendeteksi sinyal listrik sebesar setengah miliar volt. Bentuk kepala mirip martil ini juga memberikan keuntungan area penciuman yang lebih luas, meningkatkan potensi menemukan partikel di dalam air setidaknya 10 kali lipat dibandingkan hiu ‘klasik’ lainnya.

Sekali lagi, faktor ekonomi menjadi alasan penurunan populasi spesies ini. Penangkapan ikan hiu di Indonesia semakin meningkat sejalan dengan tingginya permintaan sirip hiu di pasar internasional.

kepala unik hiu martil - HIU MARTIL SI PREDATOR BERKEPALA UNIK

Data FAO menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat teratas sebagai negara dengan penangkapan hiu dan pari terbanyak setiap tahunnya.Pada tahun 1987 produksi perikanan hiu di Indonesia tercatat 36.884 ton dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 68.366 ton. Angka ini naik hingga 2 kali lipat dari tahun 1987 (Darmadi et al., 2002).

Berdasarkan kajian Koran Tempo, 1 Maret 2018, populasi hiu dan pari saat ini mendekati ancaman kepunahan akibat penangkapan ikan berlebihan, perusakan habitat, dan perubahan iklim.

Baca juga; Hiu Megalodon Raksasa

Penjelasan diberikan oleh Noviar Andayani, County Director of Wildlife Society-Indonesia Program (WCS-IP). Ia menjelaskan, ancaman terbesar yang dihadapi hiu dan pari berasal dari penangkapan ikan yang berlebihan.

Tangkapan hiu bukanlah tangkapan target melainkan tangkapan sampingan dalam perikanan tuna.

Penangkapan ikan berlebihan didorong oleh nilai ekonomi produk hiu dan pari yang tinggi, seperti sirip, insang, dan minyak, sehingga banyak yang berlomba-lomba menangkap sebanyak mungkin. Bahkan para nelayan menjadikan hiu sebagai tangkapan utama mereka.

Sedangkan hiu martil termasuk jenis ikan yang dilarang untuk diekspor berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: 59 / PERMEN-KP / 2014 dan Nomor: 34 / PERMEN-KP / 2015.

Dalam Jurnal Riset Perikanan Indonesia (2016), saat ini kebutuhan akan data dan informasi terkait hiu martil saat ini sangat penting mengingat status konservasinya yang menurut IUCN Red List termasuk terancam punah dan menurut Convention on International Trade in Endangered Species. (CITES) dari Fauna Liar. dan Flora termasuk dalam Lampiran II.

Hiu juga sangat rentan terhadap tekanan penangkapan yang berlebihan karena menunjukkan pola K-strategy yaitu siklus hidup yang panjang, pertumbuhan lambat dan kematangan seksual serta fekunditas rendah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *